Thursday, August 7, 2008



Ini kali pertama aku ikut prosesi pemakaman dari awal hingga akhir. Sempat terbersit rasa takut, takut untuk menyaksikan kesedihan yang meliputi keluarga, takut mengakui bahwa suatu saat cepat atau lambat akupun akan menjalani proses ini. Apakah aku siap untuk menghadapinya???

Menginjakkan kaki di Jl. Tekukur, sudah tampak bendera kuning yang terpasang di tiang listrik. Makin mendekati rumah duka, tampak pelayat yang berjalan menuju ke sana. Hati ini bergetar, sanggupkah aku?

Memasuki rumah duka, sudah banyak pelayat yang hadir. Di tengah ruang, jenazah Mbak Ruri disemayamkan. Bertemu dengan Mas Alfi yang tampak sangat tegar walaupun dari tatapan matanya tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang amat sangat.Hingga prosesi memandikan, mengkafani & menyolatkan. Sang suami sangat berbesar hati untuk menjadi imam saat sholat jenazah. Airmata ini tak tertahankan, bercampur antara rasa sedih kehilangan teman dengan rasa yang timbul dari dalam hati mengingatkan bahwa cepat atau lambat akupun akan kembali padanya.

Berkelabat dalam hati seandainya Mbak Ruri menyegerakan pengobatan medis, seandainya Mbak Ruri tidak usah menjalani pengobatan alternatif dan seandainya yang lain... mungkin tidak akan berakhir seperti ini. Ah tapi itu semua keinginanku, bukan kehendak-Nya.

Mengantarkanmu ke tempat peristirahatan yang terindah. Menyaksikan ketabahan suami & abit, makin menderaskan airmata ini jatuh. Fira yang masih bayipun bisa merasakan kesedihan ini, dia bertanya, " Mana Bunda?". Sang Ayah menjawab dengan senyum, " Itu lagi bobok ". Makin perih hati ini. Tapi aku yakin ini jalan terindah yang Allah rencanakan untukmu Mbak.

Selamat jalan Mbak Ruri, semoga Allah melipatgandakan amal ibadahmu, melapangkan jalanmu menuju tempat terindah milik-Nya. Semoga Allah senantiasa melapangkan dada bagi keluarga yang kau tinggalkan.

Seperti kata sambutan yang Mas Alfi baca, "Selamat jalan Bunda, kau wariskan 2 putri ini yang insyaallah akan aku jaga dengan baik"

No comments: