Sunday, August 31, 2008

Tidur Sama Bunda


Akhirnya tadi malam Kakak mau tidur sm Bunda di kamar atas tanpa bantal ijonya pulak. Waah, senengnya hati Bunda. Padahal dari bayi selalu tidur sm Mama & Papa a.k.a Eyang Putri & Eyang Kakungnya, paling Ayah & Bunda nemenin sebentar utk bacain buku & nyanyi ( itu jg kl lg g ngantuk :">, kl lg ngantuk y lsg serah terima sm Mama Papa trs ditinggal naik ke kamar ).

Siang ini juga berlanjut tidur siang di kamar atas. Mama bilang, "Uda, kakak tidur di bawah aja, kasian Ayah Bunda khan kasurnya cm kecil". Dengan sigapnya Kakak njawab sambil pegang tangan bunda, "Khan aku keluar dari perut Bunda, jadi aku mau tidur sama Bunda". ( waaah, tersanjung d dengernya..... :)

Ngomong2 kasur kecil, mang ada benernya juga siy. Di kamar atas cm pake kasur single yg dipake berdua sm Ayah, jadi kalo tidur amat sangat rapat ( kalo ini mang senengnya ;). Ditambah Kakak, jadilah bunda tidur melungker di bagian kaki. Tapi gpp koq, demi Kakak apapun bunda lakukan.

note : itu poto Kakak yg lagi tidur di kamar Mama

Wednesday, August 13, 2008

VENDING MACHINE


Berawal dari kunjungan Adjie ke kantor Ayah di bilangan Medan Merdeka Barat, itulah kali pertama dia berkenalan dengan alat ini. Mesin otomatis yang bisa mengeluarkan minuman kesukaannya ( secangkir coklat susu panas ) setelah kita memasukan sejumlah uang kedalamnya.

Tiapkali Adjie melihat uang pecahan Rp 5.000, pasti yang terbersit dalam pikirannya adalah mesin otomatis ini. "Ayah, uang ini utk Adjie y. Utk ke vending machine"

Jadilah tiap kali Bunda mengantar Ayah ke kantor dan kebetulan Adjie ikut, pasti yang dituju pertama adalah ruang tamu dimana mesin itu berada.




Teman Lama

Malam ini cukup menyenangkan..... :)

Di mulai dari perburuan teman2 lama di sekolah dulu di fs maupun di facebook akhirnya sampailah pada satu nama, "TJ". Nama sebenernya Ruth Permatasari, tapi entah kenapa anak2 di SMPN 49 sepakat untuk memanggil dia dengan sebutan itu ( finally, gw tau juga sejarah nama itu ;)

Terakhir gw ketemu di Gramed Matraman, sempet tuker2an no HP tapi belon sempet nelpon HP -nya uda ilang... :((. Dan baru malam ini qt telpon2an.

Bener2 ngereview masa SMP dulu, banyak temen yg gw inget tapi gw g tau apakah mereka inget gw secara i just an ordinary people :">.

Ngerumpi di telpon mayan lama, crita2 masa SMP, mule tentang cowok paling ganteng masa itu yg di taksir sm Monik, Yuni yg menurut TJ rambutnya bau naujubilah mindzalik sampe guru2 qt yang ajaib bin antik.

Keep contact y J......

Tuesday, August 12, 2008

Bertambah Kepandaian


Alhamdulillah, beberapa hari yll saat bunda menjemput Adjie, Bu Nur bilang kalo Adjie dah bisa nulis huruf “b”. Trs Adjie membahasakan, buat garis lurus dan kasih perut gendut di belakangnya.

Iseng – iseng ngetes di rumah, karena biasanya di sekolah bisa belum brarti di rumah juga bisa.

H2C ( harap - harap cemas )…… taraaa….. berhasil walo kakinya panjang bangets dan perut gendutnya ada di tengah garis. Mayyanlah untuk permulaan ☺

( 6 Agustus 2008 )

Friday, August 8, 2008

Celana Pendek.....


Ternyata ada yang tidak nyaman dengan gaya berpakaianku, tapi sayangnya blio mengatasnamakan orangtua murid & sekolah.

Mungkin aq melupakan kata pepatah, "Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kuda meringkik", maksudnya bukan kita jadi binatang - binatang itu tapi harus menyesuaikan dengan lingkungan yang dimasuki.
Tapi kalo memang ini sudah bermasalah sejak awal Adjie sekolah, kenapa baru sekarang dipertanyakan. Toh sudah dari kemarin - kemarin pakaianku seperti ini. Selama ini aq tidak pernah mengusik mereka tapi kenapa mereka jadi sibuk karena pakaianku??? Bu Chandra bilang bahwa saat bunda mengantar Adjie, bunda lewat aja tanpa menyapa para pengantar yang biasanya menunggu anaknya sampai waktu masuk. Lantas bunda jawab, sering bunda berusaha tersenyum kepada mereka tapi mereka yang terlalu sibuk ngobrol satu sama lain sampai2 senyum bunda pun tak berbalas. Atau saat bunda sedang mood, bunda brusaha ramah dengan menyapa mereka, tapi sambutannya amatlah dingin. Kalaupun berbalas itu hanya sekedar basa basi. Dan yang paling bunda g tahan, kebiasaan mereka untuk kumpul & ngobrol ngalor - ngidul yang bunda yakin akan berakhir pada menggunjingkan orang lain. Bunda sudah bergelimang dosa, untuk apa menambah dosa dengan hal - hal yang sepele seperti itu. Bukan juga bunda menempatkan diri lebih tinggi dari mereka, bukan... Hanya bunda g suka aja dengan cara mereka. Dan bunda bukan orang yang mudah masuk ke lingkungan yang menurut bunda g klik dengan bunda. Itu bukan style bunda. G harus khan menunggu anak2 sampai masuk kelas, toh anak2 juga sibuk dengan kegiatannya masing2. Sebelum berangkat sekolah terutama kalo bunda liat mood Adjie g bagus, bunda selalu tanya, "Kakak mo ditunggu berapa lama?", dan Adjie menjawab, "10 menit bunda". Itu brarti bunda akan tinggal aga lama setelah Adjie ganti sepatu, walopun pada kenyataannya seringkali berubah pikiran, "Eh, 2 menit aja deh Bunda, abis itu bunda pulang, khan mo blanja ke pasar." Kalo itu brarti bunda langsung pulang setelah adjie ganti sepatu. Tapi sering juga, saat di perjalanan Adjie dah brubah pikiran, "bunda langsung pulang aja dech, khan Adjie anak sholeh." Atau bahkan ketika sampai di depan gerbang Adjie juga sering bilang, "Bunda pulang aja, Adjie khan laki2 dewasa"..... Ya Allah, betapa besar karunia-Mu

Sempat airmata ini menitik di ruang Kepala Sekolah, ada rasa tidak suka saat orang lain mengkritik tapi aq mencoba berlapang dada menerimanya. Mungkin ini salah satu teguran dari Allah.

Thursday, August 7, 2008



Ini kali pertama aku ikut prosesi pemakaman dari awal hingga akhir. Sempat terbersit rasa takut, takut untuk menyaksikan kesedihan yang meliputi keluarga, takut mengakui bahwa suatu saat cepat atau lambat akupun akan menjalani proses ini. Apakah aku siap untuk menghadapinya???

Menginjakkan kaki di Jl. Tekukur, sudah tampak bendera kuning yang terpasang di tiang listrik. Makin mendekati rumah duka, tampak pelayat yang berjalan menuju ke sana. Hati ini bergetar, sanggupkah aku?

Memasuki rumah duka, sudah banyak pelayat yang hadir. Di tengah ruang, jenazah Mbak Ruri disemayamkan. Bertemu dengan Mas Alfi yang tampak sangat tegar walaupun dari tatapan matanya tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang amat sangat.Hingga prosesi memandikan, mengkafani & menyolatkan. Sang suami sangat berbesar hati untuk menjadi imam saat sholat jenazah. Airmata ini tak tertahankan, bercampur antara rasa sedih kehilangan teman dengan rasa yang timbul dari dalam hati mengingatkan bahwa cepat atau lambat akupun akan kembali padanya.

Berkelabat dalam hati seandainya Mbak Ruri menyegerakan pengobatan medis, seandainya Mbak Ruri tidak usah menjalani pengobatan alternatif dan seandainya yang lain... mungkin tidak akan berakhir seperti ini. Ah tapi itu semua keinginanku, bukan kehendak-Nya.

Mengantarkanmu ke tempat peristirahatan yang terindah. Menyaksikan ketabahan suami & abit, makin menderaskan airmata ini jatuh. Fira yang masih bayipun bisa merasakan kesedihan ini, dia bertanya, " Mana Bunda?". Sang Ayah menjawab dengan senyum, " Itu lagi bobok ". Makin perih hati ini. Tapi aku yakin ini jalan terindah yang Allah rencanakan untukmu Mbak.

Selamat jalan Mbak Ruri, semoga Allah melipatgandakan amal ibadahmu, melapangkan jalanmu menuju tempat terindah milik-Nya. Semoga Allah senantiasa melapangkan dada bagi keluarga yang kau tinggalkan.

Seperti kata sambutan yang Mas Alfi baca, "Selamat jalan Bunda, kau wariskan 2 putri ini yang insyaallah akan aku jaga dengan baik"

Wednesday, August 6, 2008

Selamat Jalan Mbak Ruri

Kehidupan, kematian, rejeki & jodoh adalah kuasa Allah. Manusia hanya bertugas untuk memelihara amanah dari-Nya.

Allah sangat mencintaimu Mbak, sehingga tak rela dirimu didera oleh rasa sakit yang sangat. Manusia berusaha, Allah yang berkehendak. Inilah yang terbaik untukmu.

Selamat jalan Mbak Ruri, beristirahatlah dalam damai. Teriring doa untukmu & keluarga